~when everything seems like it's falling apart, that's when God is putting things together just the way He wants it~ (unknown)
RSS

Thursday, April 5, 2012

Books : Railway Children - E. Nesbit

Gambar diambil dari : koleksi buku pribadi
"The Railway Children" (Anak-Anak Kereta Api) by E. Nesbit
Alihbahasa : Widya Kirana
Desain & ilustrasi sampul : Satya Utama Jadi
Gramedia Pustaka Utama
Cetakan kedua : Juni 2010
312 halaman, 20 cm
ISBN : 978-979-22-5257-6


Kamis 5/4 (9:40 am)


"Tidakkah lebih baik kalau kita bayangkan diri kita sebagai tokoh2 cerita yang ditulis oleh Tuhan? Kalau Ibu yang menulis cerita, mungkin Ibu akan membuat kesalahan. Tapi kalau Tuhan yang jadi Sang Pengarang, Tuhan tahu bagaimana mengakhiri sebuah cerita dengan sebaik2nya - yang terbaik bagi kita semua."


"Ibu sungguh2 percaya akan itu?" tanya Peter lirih.


"Ya, Ibu percaya, hampir selalu percaya, kecuali bila Ibu sedang sedih sekali dan rasanya takkan bisa mempercayainya. Ibu tahu itu semua benar, dan akhirnya Ibu berusaha memercayainya. Kau tak tahu, Peter, betapa Ibu selalu berusaha memercayai dan menerima, bahwa kehendak Tuhan selalu yang terbaik bagi kita."


(dikutip dari halaman 284)


Dari buku setebal 309 halaman ini, entah mengapa kata2 di halaman 284 itu paling berkesan buat gua. Coba dhe kalian baca ulang lagi dan resapi pelan2.


Kata2 di atas mudah diucapkan ketika segala sesuatu berjalan sesuai yang diharapkan. Lho, memangnya ada apa dengan keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu, dan ketiga orang anaknya, Roberta, Peter dan Phyllis?


Itu akan membawa kita ke awal cerita di mana keluarga ini hidup bahagia di Vila Edgecombe, kehidupan yang serba berkecukupan, sampai suatu malam mereka kedatangan dua tamu yang membawa ayah mereka pergi dan untuk beberapa saat lamanya, tidak hanya mereka tidak bisa bertemu dengan Ayah, hari2 di Vila Edgecombe pun harus berakhir.


Tanpa penjelasan, Ibu memberitahu singkat bahwa mereka akan pindah dan hanya barang2 yang berguna saja yang akan mereka bawa, sisanya ditinggalkan tanpa tahu kapan akan bisa mereka pergunakan lagi.


Dari tempat yang penuh hiruk pikuk dan bising, mereka pindah ke daerah pedesaan yang tenang, dan tinggal dekat sekali dengan rel kereta api. Setelah terbiasa mengamati, mereka akhirnya mengetahui jadwal kedatangan kereta serta suka sekali melambai2kan tangan kepada para penumpang yang ada di dalam kereta yang melaju cepat. Salah seorang penumpang, seorang bapak tua, membalas lambaian tangan mereka dan secara rutin mereka saling berbalasan lambaian walaupun tidak mengetahui nama masing2.


Berkat Pak Tua juga, mereka bisa mendapatkan berbagai macam barang kebutuhan seperti yang diresepkan dokter agar ibu mereka yang sedang sakit bisa cepat sembuh.


Ketiga bersaudara itu mengalami hari2 yang menyenangkan dan berteman dengan banyak orang di sekitar tempat mereka tinggal. Sesekali ada di antara mereka yang berbuat salah untuk alasan yang benar, seperti misalnya ketika Peter mencuri persediaan batu bara di stasiun kereta api karena mereka kini miskin dan batu bara pada jaman itu mahal harganya, hingga mereka tidak bisa seenaknya menyalakan perapian kalau tidak terpaksa.


Tapi perbuatan salah, tetap saja salah, walau dilakukan untuk alasan yang benar. Pak Kepala Stasiun suatu hari menangkap basah Peter yang sedang mencuri, ia menasihati anak2 tersebut bahwa apa yang mereka lakukan itu salah namun ia tidak menghukum mereka karena anak2 tersebut tampaknya sudah menyadari bahwa yang mereka lakukan memang mencuri, walau Peter memakai istilah "menambang".


Kehidupan di Pondok Tiga Cerobong tidak bisa dikatakan membosankan, karena ada saja kejadian yang dialami ketiga bersaudara ini. Seperti misalnya ketika ada penumpang gelap yang tidak bisa berbahasa Inggris membuat keributan di stasiun karena tidak punya tiket, dia tampak ketakutan dan berusaha menjelaskan situasi namun tidak ada yang mengerti. 


Barulah ketika Ibu datang dan mengajak ngobrol orang itu, ternyata dia adalah penulis terkenal asal Rusia yang banyak menulis buku2 tentang kemiskinan yang tidak disukai pemerintah. Karenanya dia ditangkap dan dipenjara, namun berhasil melarikan diri untuk menemui istri dan anak2nya. Tapi ia kehilangan tiket dan dompetnya. Berkat bantuan Pak Tua yang ternyata mempunyai koneksi yang luas, orang Rusia ini berhasil berkumpul kembali dengan keluarganya. 


Di samping itu, Roberta (atau yang lebih sering dipanggil dengan nama Bobbie) beserta Peter dan Phyllis menjadi trio penyelamat kereta api karena mereka melihat longsoran batu dan memperingatkan kereta agar tidak melintas di jalur tersebut, dengan demikian kereta tersebut berhasil terhindar dari kecelakaan. Berbekal rok dalam merah dan ranting muda yang cukup panjang, mereka berhasil membuat enam bendera kecil untuk dilambai2kan agar menarik perhatian Pak Masinis dan Juru Api agar menghentikan kereta.


Dari berbagai orang yang mereka temui dan berkawan, orang yang paling mereka sukai adalah Pak Perks, portir statiun. Suatu hari Pak Perks bercerita bahwa ia tidak pernah merayakan ulang tahunnya. Mendengar hal itu, tiga bersaudara ini memutuskan untuk merayakan ultah Pak Perks. Selain hadiah dari mereka sendiri, ketiganya berkeliling desa mencari orang2 yang juga mau memberi Pak Perks hadiah.


Ibu sudah mengingatkan mereka bahwa apa yang mereka lakukan mungkin menyinggung Pak Perks, karena biar miskin, tentunya Pak Perks tidak ingin dikasihani. Dan apa yang Ibu katakan benar, pertama melihat hadiah2 yang dibawa tiga bersaudara ini, Pak Perks marah dan merasa terhina karena dipikirnya orang2 jatuh iba padanya maka mereka menyumbangkan hadiah.


"Keluar!" teriaknya. "Keluar! Dan katakan maksud kalian sesungguhnya! Aku tidak pernah mengeluh pada kalian, mengeluh kekurangan atau merasa miskin. Jadi, apa maksud semua belas kasihan ini, he?!"


"Oh!" Phyllis memekik tertahan. "Saya kira Anda akan senang sekali. Saya kapok, saya takkan pernah lagi berbuat baik pada orang lain, seumur hidup. Tidak, takkan pernah lagi."


(dikutip dari halaman 197)


Maksud yang baik, belum tentu hasil akhirnya itu sesuai dengan apa yang diharapkan juga, iya khan? Beruntunglah setelah sedikit kesalahpahaman yang berhasil diselesaikan dengan baik, maksud baik ketiga anak ini pun tersampaikan dengan baik pula :))


Ketiga anak tersebut sudah berhenti bertanya2 mengenai keberadaan Ayah. Bobbie yang paling pertama berhenti melakukannya, bukan karena ia tidak kangen dengan Ayah, tapi lebih karena ia melihat Ibu sedih tiap kali membicarakan Ayah, dan Bobbie tidak ingin Ibu sedih, karenanya ia tidak pernah lagi menyinggung tentang Ayah ketika Ibu ada bersama mereka. Peter serta Phyllis juga sedikit banyak mulai merasa, karenanya mereka juga tidak lagi berbicara mengenai Ayah di hadapan Ibu, hal yang membuat Ibu bertanya2 apakah ketiga anaknya itu telah melupakan Ayah mereka?


Suatu hari, secara tidak sengaja Bobbie menemukan "rahasia" di balik menghilangnya Ayah. Bobbie tidak percaya semua yang dituduhkan ke Ayah, walau Ayah diputuskan bersalah oleh pengadilan karena menjual rahasia negara dan sebagai hukuman, Ayah harus menjalani 5 tahun kerja sosial. Bobbie sedih sekali, ia meminta bantuan Pak Tua untuk mencari dalang sebenarnya di balik penangkapan Ayah. Ibu meminta Bobbie menjaga rahasia ini dan tidak membaginya dengan Peter dan Phyllis.


Menjelang akhir cerita, ada satu lagi kejadian, ketika Bobbie menunggu di dalam terowongan kereta api untuk menemani anjing berkaus merah, well.. bukan anjing beneran sih, tapi orang yang berperan sebagai "anjing" pemburu "kelinci" (kelinci-nya juga bukan kelinci beneran, haha :p) yang mengalami kecelakaan di dalam terowongan. Untung saja ketiga anak ini iseng menghitung jumlah "anjing" yang masuk ke dalam terowongan dan ketika menunggu di pintu keluar terowongan, mereka menyadari ada satu "anjing" berkaus merah yang belum juga keluar walau teman2nya sudah lama berlalu.


Ternyataa.. si kaus merah itu adalah cucunya Pak Tua boo! What a small world (di dalam cerita) yaa, hahaha :)) Ibu untuk sementara merawat cucu Pak Tua sampai sembuh benar.


Kesabaran serta kebaikan hati ketiga anak beserta ibu mereka menemui akhiran manis ketika Ayah pulang kembali untuk berkumpul bersama dengan keluarganya, yeaahh..


Welcome back (to the new) home, Ayah!


And "The Railway Children" pun selesai gua baca, hahaha.. versi cetak ulang Gramedia ini baru pertama gua baca, ini juga nemunya secara ngga sengaja karena gua ngga tau Gramedia mencetak ulang nih buku! Mana stok-nya tinggal satu pulaa, jadi gua amat sangat berbahagia karena "The Railway Children" masih memilih gua untuk menjadi pembaca setianya, hihihi..


Di samping "The Railway Children", kebetulan gua sempat membaca buku E. Nesbit lainnya, satu yang gua suka dalam gaya berceritanya adalah.. dia seolah2 menjadi tokoh juga dalam ceritanya itu.


Semisal seperti yang ada di halaman 39.


"Lebih asyik daripada lokomotif mainan, kan?" kata Roberta.


(Aku bosan menyebut Roberta dengan nama lengkapnya. Tak ada keharusan, bukan? Orang lain tak pernah memanggilnya begitu. Semua memanggilnya Bobbie. Jadi, apa salahnya jika aku juga menyebutnya Bobbie?)


Contoh lainnya di penghujung cerita di halaman 309.


Ayah melangkah masuk dan pintu menutup di belakangnya. Kurasa sebaiknya kita tidak membuka pintu itu dan mengikutinya ke dalam. Kurasa, saat ini, kehadiran kita di sana hanya akan mengganggu. Yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah mundur perlahan2, lalu pergi diam2. Di ujung padang rumput, di antara pucuk2 rerumputan yang keemasan, di antara bunga2 lonceng biru, mawar gipsy, dan bunga St. John's Wort, di sana.. mungkin kita bisa menoleh sekali lagi, menoleh ke arah rumah bercat putih dengan tiga cerobong asap di atasnya. Yah, kehadiran kita atau siapapun juga, tak diinginkan lagi di sana, saat ini..


Gaya bercerita seperti ini buat gua menarik, hahahaha.. karena di satu sisi, si pengarang seakan berada di luar cerita, tapi di sisi lain seolah dia ada di dalam cerita yang dia buat itu, huaa.. kereenn! 


Sedikit banyak sepertinya gua mengadaptasi gayanya tanpa sadar, hahaha.. karena dalam mosting itu gua suka seperti "bercakap2" walau ngga ada juga orang yang gua ajak ngomong secara langsung khan?


Hal lainnya yang gua suka dari E. Nesbit adalah.. dia memadukan hal2 magis dengan orang2 biasa.. di sini sih ngga ada, haha, tapi coba dhe baca buku2nya yang lain maka kalian akan menemukan hal yang gua ceritain itu.


Anywayy.. selalu ada perasaan senang sehabis membaca buku bagus, and ini buku termasuk buku yang meninggalkan kesan, lama setelah gua pertama membacanya, walau yaahh.. kalo soal urusan jalan cerita dllsb, mungkin emang bawaan gua yang pelupa jadi kadang sering juga ngga inget, hahaha.. tapi gua selalu inget mana2 aja buku yang berkesan :))


Tertarik? Yukk aahh, buruan cari, semoga kalian berhasil mendapatkannya dan tenggelam dalam dunia kecil Roberta, Peter dan Phyllis, banyak hal yang bisa dipelajari dari mereka lhoo ^o^


Kamis 5/4 (12:22 pm)


-Indah-

Wednesday, April 4, 2012

Enjoy Aja : Lotsa Postcards from Dewi

Pictures are taken from : own collection of postcards


Rabu 4/4 (9:55 pm)


Sekarang kalo ada yang nanya, "Mau oleh2 apa" tiap kali ada yang berpergian, gua pasti tanpa ragu2 akan menjawab, "postcards", hahahaha..


Padahal dulu temen gua suka ngebawain coklat, teh, kopi, dll makanan kecil lainnya. Enak sihh.. tapi untuk saat ini gua lebih memilih postcard, hihihi.. soalnya yaa.. lidah gua itu khan termasuk kategori lidah 'selera rendah' (istilah yang sering dipake ama temen gua, haha), yang artinya hampir tiap makanan itu rasanya enak, kalo ngga yaa enaaaak bangets, hahaha..


Lagian, coklat di mana2 rasanya yaa.. seperti coklat juga khan? :p


Kalo postcard? Postcard.. beda! Hahahaha.. walau bisa aja sih kalo emang niat khan tinggal cari2 gambar yang disuka di Google lalu diprint sendiri dhe, tapii.. ada sensasi rasa yang beda kalo berhasil mendapatkan postcard bukan hasil print-an sendiri, tapi dari cetakan pabrikan githu dhe, hahaha..


Mungkin sama seperti antara beli buku yang udah dijilid rapi di toko buku sama ngeprint sendiri dari e-book terus dijilid, walau rapi and sampulnya juga udah 'niru' versi buku asli, tetap aja akan terasa beda khaan?


Yaa.. seperti itulah kurang lebih rasanya menerima postcard hasil oleh2, terlebih yang gambarnya ngga biasa.


Jangan salah, ngga biasa di sini maksudnya bukan gambar dengan pose yang aneh2 lho yaa.. tapii.. ngga biasa itu, dalam artian not that typical tourist cards..


Gua ngga terlalu suka postcard bergambar bangunan, betapapun kerennya atau bersejarahnya tuh bangunan, bagi gua itu tetap gambar.. ya bangunan aja, hahaha.. mungkin karena gua juga ngga terlalu tertarik ama arsitektur and sejarah kali yaa?


Demikian juga dengan gambar pemandangan.. gua ngga terlalu tertarik ma postcard bergambar pemandangan. Ya ya yaa.. emang sih pemandangannya bagus, tapi paling hanya berhasil mendapatkan perhatian gua paling lama hanya semenit aja kalii, hihihi.. Mungkin karena pada dasarnya gua hanya penikmat alam sesaat, bukan pencinta :)


Lantas.. postcard macam apa donkss yang memikat hati gua? Ngga lain dan ngga bukan.. postcard2 bergambar peri2 githu, or ilustrasi seperti yang biasanya ada dalam buku anak, atau model2 komik Jepang githuu..


Gua ngga masalah gambar bangunan, asal gambar bangunannya bukan hasil jepretan foto melainkan dalam bentuk sketsa bergambar, dikarikaturin malah lebih bagus lagi buat gua, haha.. gua pernah tuh ngeliat gambar Menara Eiffel dikarikaturin jadi punya tangan and kaki githu terus pake topi item and kaya lagi nenteng sesuatu, buat gua, postcard macam itu jauuuuhh lebih menarik dibanding hasil jepretan foto Menara Eiffel dengan segala kemegahannya :))


Ehh.. sebenernya yaa.. gua intro panjang lebar gini sih, intinya cuman mau ngasih tau kalo gua senaaaang bangets kemaren ini nerima kiriman setumpuk kartu pos dari Dewi, hahahaha..


*busyett.. cuman mau bilang itu aja kok ngocehnya panjang lebar ke sana kemari yaa, wakakakakakak :p*


(khan katanya, katanyaa.. kita harus latihan nulis di mana saja dan kapan saja, hahahaha :D)


{sepertinya salah mengartikan pesan :p}


Well.. anywayy.. ini beberapa kartu pos yang dikirimkan Dewi..


tadi lupa yang ini namanya apa yaa?

rumah tradisional

wayang

Papua card

kartu Maluku yang dikirimin Dewi ini keren2 dhe aww!

bagus yaa, tiga warna langit githuu :)

ayoo.. siapa yang mau ikutan nyebur? :p

who likes Betty Boop? :D

aahhh.. ini cutee bangetsss.. salah satu fave gua!

jangan lupa diapalin yaa, anak2, nanti keluar di ujian lhoo!

nina boboo.. ayolah boboo.. kalo tidak boboo.. gua yang bakal gigit elo, huahahahaha :p
Ada banyaaak lagi kartu lainnya yang dikirim Dewi, tapi males euyy kalo musti resize satu per satu, hahaha.. jadi hanya beberapa aja yang gua foto terus gua resize ;)


Thanks a lot yaa, Wii!


*jangan lupa kalo ke mana2, tiap liat postcard, ingatlah pada dirikuu*


(huahahhaaha.. teteuupp! :p)


Rabu 4/4 (10:36 pm)


-Indah-

Books : Nobody's Boy - Hector Malot

Gambar diambil dari : koleksi buku pribadi
"Nobody's Boy" (Sebatang Kara) by Hector Malot
Alih bahasa : Tanti Lesmana
Desain & ilustrasi cover : Satya Utama Jadi
Gramedia Pustaka Utama
April 2012
384 halaman, 20 cm



Selasa 3/4 (11:37 am)


Pastinya udah sering bangets khan dengar "don't judge a book by its cover"? Ya ya yaa.. memang kebiasaan gua dalam memilih buku mana yang mau dibeli or dibaca itu jangan ditiru ya, hahaha, karena gua masih amat sangaaat bergantung pada cover untuk menemukan 'chemistry' awal antara gua dengan buku yang bersangkutan :p


Dan karena kecenderungan gua untuk 'menilai' isi buku dari covernya itu pula yang membuat gua awalnya melewatkan "Nobody's Boy" ini karena cover-nya itu kurang menarik buat gua :)


Lalu kenapa akhirnya gua melirik nih buku? Well, itu karena gua udah amat sangat desperate berusaha mencari buku supaya bisa memanfaatkan diskon, hahahaha :p Dan akhirnya gua menelusuri satu per satu buku dengan lebih seksama and nyantol di rak buku yang tadi udah gua lewatin sekilas and kembali melihat nih buku lalu memutuskan untuk memperhatikannya dengan lebih seksama.


"Baiklah," putus gua, "berhubung dari cover udah ngga ada yang menarik, saatnya melihat ke sinopsis cerita yang ada di belakang!"


Dan gua amat sangaaat bersyukur bangets nih buku bagian belakangnya itu bukan berisi endorsement, ahahahaha.. buat gua endorsement itu amat menganggu karena sama sekali ngga memberi gambaran mengenai isi cerita. Boleh lah kalo mau ditempelin endorsement, tapi pleasee.. taruhnya di bagian dalam aja yaa, jangan ditempel di semua bagian belakang buku :))


Kata demi kata gua baca and sesuatu terasa familiar seiring dengan kalimat demi kalimat yang menyesap masuk ke dalam otak gua.


Walau gua baru pertama tahu tentang buku "Nobody's Boy", tapi kok gua berasa kenal sih sama nama2 yang disebutkan? Remi, Signor Vitalis lalu ada anjing2 dan seekor kera!


*tiinngg*


Pikiran gua langsung melayang ke salah satu film seri kartun yang dulu pernah ditayangkan RCTI. Gua jadi bersemangat karena somehow gua ngerasa ini buku pasti sama dengan salah satu film kartun terbaik yang pernah gua tonton itu, yang ngga hanya memanjakan mata dari segi cakepsnya gambar tokoh2nya, tapi juga dari segi cerita itu kuat and berkesan!


Harap2 cemas, gua putuskan untuk membeli nih buku, dan membacanya lembar demi lembar. Menelusuri kisah Remi itu serasa membuka kembali laci kenangan yang hanya samar2 gua inget dari kartun yang gua tonton sekian belas tahun silam (lupa sih tepatnya kapan tayang di RCTI, hahaha, tapi pastinya udah lamaa bangets, seinget gua sih satu periode sama Candy2 boo!).


Jadi, setelah pembukaan yang panjang itu, siapakah Remi yang sebatang kara itu?


Remi adalah bocah lelaki kecil yang tinggal di Chavanon, salah satu desa paling miskin di Perancis. Remi hanya tinggal berdua dengan Ibu Barberin karena Pak Barberin mengadu nasib di Paris sebagai tukang batu. Walaupun hidup kekurangan, berkat Rousette, sapi mereka, Remi dan ibunya tidak kelaparan karena mereka masih bisa menikmati susu, krim serta mentega.


Barulah ketika Pak Barberin mengalami kecelakaan, ia memutuskan pulang kembali ke desa untuk hidup bersama dengan istrinya, dan ia terkejut mendapati Remi masih tinggal di rumahnya.


Dari percakapan Pak Barberin dan Bu Barberin, Remi baru tahu kalau ia ternyata hanyalah anak angkat, yang ditemukan Pak Barberin di kota Paris. Berpakaian bagus dan terlihat mahal, Pak Barberin menyerahkan Remi ke polisi tapi tidak ada yang melaporkan kehilangan anak, sehingga pilihannya hanya dua, menyerahkan Remi ke panti asuhan atau meminta kesediaan orang yang ada di kantor polisi untuk merawatnya. 


Pak Barberin akhirnya membawa Remi pulang karena polisi tadi bilang kalau nanti Remi dijemput orangtuanya, tentu saja Pak Barberin akan mendapatkan sejumlah uang karena telah merawat anak mereka. Tahun demi tahun berlalu tapi tidak ada yang mendatangi kediaman eluarga Barberin untuk mencari Remi. Anak kandung keluarga itu meninggal dunia, karena itulah Bu Barberin memutuskan untuk membesarkan Remi sebagai pengganti anaknya, walau Pak Barberin telah mewanti2nya agar segera menyerahkan Remi ke panti asuhan. Namun Bu Barberin tidak pernah melakukannya, ia menyayangi Remi seperti anaknya sendiri dan karena Pak Barberin jarang pulang ke rumah, ia tidak pernah tahu istrinya tidak mentaati perintahnya.


Sampai hari di mana Pak Barberin kembali pulang karena sidang pengadilan atas kecelakaan yang dialaminya telah selesai. Ia kalah dan tidak mendapat kompensasi uang. Tidak punya kerjaan, dan uang mereka juga sudah habis untuk menyewa pengacara, Pak Barberin mengatakan pada istrinya bahwa mereka tidak bisa lagi merawat Remi karena untuk bertahan hidup sendiri saja sudah sulit.


Pak Barberin lalu mengajak Remi untuk menemui Pak Walikota agar Panti Asuhan membayarkan sejumlah uang sebagai ganti biaya yang dikeluarkan Pak Barberin selama merawat Remi. Di tengah perjalanan, teman lama Pak Barberin mengajaknya mampir di kedainya dan di sanalah Remi untuk pertama kalinya bertemu dengan Signor Vitalis, seniman jalanan yang mencari uang dari atraksi ketiga anjing dan monyet peliharaannya.


Signor Vitalis berniat menyewa Remi untuk ikut dalam pertunjukan jalanannya, ia bersedia membayar Pak Barberin 20 franc setahun, awalnya Pak Barberin menolak karena menurutnya ia bisa mendapatkan 10 franc per bulan dari panti asuhan. Tapi Signor Vitalis mengingatkan bahwa dengan uang segitu Pak Barberin tetap harus memberi makan Remi, belum lagi bisa pihak Panti Asuhan malah tidak mau membelinya uang sama sekali, jadi akan lebih baik Pak Barberin menyerahkan Remi padanya.


Setelah melalui negosiasi alot, akhirnya disepakati 'harga' Remi adalah 40 franc, dan Signor Vitalis sendiri yang menjemput Remi di tempat kediamannya keesokan harinya. Remi tidak sempat mengucapkan selamat tinggal pada satu2nya ibu yang selama ini dikenalnya, ibu yang amat disayanginya karena pagi2 sekali Pak Barberin telah menyuruh Bu Barberin pergi agar tidak mencegah ketika Signor Vitalis membawa Remi pergi.


Bersama Signor Vitalis, Remi menjelajah kota demi kota di Perancis. Dari desa ke desa mereka mengadakan pertunjukan untuk mendapatkan uang demi menyambung hidup. Terkadang mereka mendapatkan sambutan hangat dan uang yang dikumpulkan bisa dibelikan makanan yang mengenyangkan seluruh rombongan, tapi tidak jarang mereka harus tidur sambil menahan lapar karena minimnya uang yang mau dikeluarkan oleh orang yang menonton pertunjukan mereka.


Rasa sayang Remi mulai tumbuh pada Signor Vitalis, walau statusnya sebagai majikan tapi Signor Vitalis tidak pernah memperlakukannya dengan buruk, bahkan bisa dibilang Signor Vitalis amat baik padanya, tapi tetap saja Remi merasa segan untuk mendemonstrasikan rasa sayangnya secara nyata, walau berulang kali ia merasa ingin memeluk bapak tua itu karena rasa haru. Remi bahagia dengan kehidupannya yang berpindah2, karena ia merasa tidak sendiri. 


Ketiga anjing Signor Vitalis, yaitu Capi, Zerbino dan Dulce seringkali menjadi pelipur laranya. Sampai suatu hari, dikarenakan ulah salah seorang petugas polisi yang memenjarakan Signor Vitalis selama 2 bulan, Remi harus mengembara sendirian bersama rombongannya. Signor Vitalis pintar bernyanyi dan bermain biola, dan walau Remi juga sudah bisa bermain harpa sendiri, tetap saja kharisma Signor Vitalis tidak dimilikinya dan Remi pesimis ia akan sanggup menghasilkan uang untuk menyambung hidup mereka sambil menunggu masa pembebasan majikannya itu.


Beruntung Remi bertemu dengan nyonya baik hati, Mrs Milligan bersama anaknya, Arthur yang mengajak mereka semua tinggal di kapal The Swan sampai waktu Signor Vitalis di penjara berakhir. Remi senang menghabiskan waktu bersama ibu dan anak tersebut, selain tidak perlu mengkuatirkan soal makanan, walau hanya sekejap Remi kembali merasakan kasih sayang seorang ibu dan Arthur juga sudah menganggapnya sebagai saudaranya.


Bahkan Mrs Milligan berniat membawa Remi kembali ke rumahnya dan memintanya resmi pada Signor Vitalis. Tapi Signor Vitalis menolaknya. Katanya pada wanita itu..


"Aku sayang anak itu, dan dia sayang padaku. Pelajaran hidup yang kuberikan padanya akan baik untuknya, jauh lebih baik dari daripada yang akan dia peroleh bersama Anda. Anda akan memberinya pendidikan, itu benar, Anda akan membentuk pikirannya, tetapi bukan karakternya. Hanya dengan belajar menghadapi kesulitan2 hidup, karakter Anda akan terbentuk. Dia tidak bisa menjadi anak Anda. Dia akan selalu menjadi anakku. Itu lebih baik daripada menjadi mainan untuk anak Anda yang sakit, semanis apapun dia. Aku juga akan mengajari anak Anda." (halaman 134)


Remi sedih harus berpisah dengan Mrs Milligan dan Arthur, tapi tidak ada waktu bersedih, hidup terus berjalan. Pada musim Semi, Panas dan Gugur, keadaan tidak terlalu bermasalah tapi ketika Musim Dingin tiba, di sinilah masalah dimulai karena mereka berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya dengan berjalan kaki, dan seringkali harus menempuh sekian jam perjalanan sebelum ada tempat persinggahan. Salju yang turun, dingin yang menggigit dipastikan membuat perjalanan menjadi lebih berat bagi setiap anggota rombongan, terlebih buat Pretty Heart, sang monyet yang mudah masuk angin. 


Suatu hari mereka terjebak dalam badai salju, untunglah mereka bisa menemukan gubuk penebang kayu di tengah hutan hingga mereka bisa berlindung dari amukan salju yang dinginnya menusuk hingga ke tulang. Signor Vitalis dan Remi bergantian berjaga agar api tetap menyala, tapi ketika tiba giliran Remi, tanpa sadar ia ketiduran dan ketika terbangun, Zerbino dan Dulce sudah tidak ada di dalam gubuk! Suasana di luar terlalu gelap hingga mereka terpaksa menunggu hingga matahari terbit sambil berdoa agar kedua teman mereka baik2 saja.


Ketika pagi datang menjelang, mereka hanya menemui kenyataan pahit karena tampaknya Zerbino dan Dulce telah dibawa gerombolan serigala. Remi tak henti menyesali kelalaiannya. Rombongan yang tersisa melanjutkan perjalanan dengan muram, sedih karena kehilangan 2 teman setia mereka, ditambah lagi keadaan Pretty Heart yang sedang sakit dan kedinginan. Signor Vitalis mengajak mereka semua mencari tempat penginapan yang hangat agar mereka bisa membungkus Pretty Heart dalam selimut tebal hingga tubuhnya tidak lagi kedinginan. Tapi semuanya terlambat. Lagi2 mereka harus mengucapkan selamat tinggal, kali ini pada Pretty Heart yang walau kadang tingkahnya menjengkelkan, namun ia telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kelompok kecil ini. 


Apalagi yang bisa mereka lakukan untuk bertahan? 2 dari bintang pertunjukan anjing mereka telah berpulang, ditambah lagi Pretty Heart menyusul tidak lama kemudian. Dan musim dingin belum lagi berakhir. Signor Vitalis memberitahu Remi, demi kebaikan dirinya maka ia terpaksa menitipkan Remi pada temannya dan mereka baru bisa berjumpa lagi pada saat musim Semi sudah datang. 


Signor Vitalis membawa Remi menemui Garofoli namun Garofali sedang tidak di tempat, hanya ada Mattia yang ditugaskan menjaga sup yang digembok agar tidak bisa dicurinya. Sambil menunggu Garofali pulang, Signor Vitalis meninggalkan Remi bersama Mattia, yang dengan sukarela menceritakan kekejaman Garofali hingga menciutkan nyali Remi dan membuatnya bertanya2 apakah Signor Vitalis akan meninggalkannya dengan pria kejam ini. Remi menyaksikan sendiri betapa Garofali menyiksa anak2 "asuh"-nya yang kurang membawa uang setoran.


Signor Vitalis yang masuk ketika anak suruhan Garofali sedang mencambuk. Signor Vitalis geram sekali dan tidak jadi menitipkan Remi padanya. Jelas Remi merasa amat lega. 


Bertiga dengan Signor Vitalis dan Capi, Remi meneruskan perjalanan dalam udara dingin. Tapi tubuh tua Signor Vitalis tidak lagi sanggup menahan serbuan dingin. Setelah berjalan dalam salju yang terasa tak berujung, akhirnya mereka beristirahat di gudang seorang petani bunga. Mereka semua kelelahan hingga ketika baru menyentuh jerami, langsung saja mereka tertidur.


Ketika terbangun, Remi tidak lagi ada di dalam gudang, dalam kebingungan Remi baru tahu bahwa Signor Vitalis telah meninggal. Remi kembali merasa sebatang kara. Satu per satu yang disayanginya pergi meninggalkannya. Sepeninggal Signor Vitalis, Remi tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Ingin rasanya hidup bersama Mrs Milligan dan Arthur tapi ia tidak tahu di mana mereka berada. Kembali ke Bu Barberin, Remi yakin Pak Barberin tidak akan mau menerima kehadirannya.


Petani bunga bernama Monsieur Acquin menawarkan Remi tinggal bersama keluarganya, tentu saja Remi menyambut gembira tawaran itu. Akhirnya, Remi mempunyai keluarga yang selalu diimpikannya! 


Tapi kebahagiaan lagi2 enggan menyapa Remi lama2. Sekian tahun hidup dikelilingi saudara/i yang menyayanginya, malapetaka sudah mengintip dan siap menggeser kebahagiaan dari hidup Remi. 
Tempat tinggal Monsieur Acquin terkena badai, yang walau hanya berlangsung sebentar tapi memporakporandakan bunga2 yang telah siap dipanen hingga sebagian besar bunga hancur. Akibatnya Monsiue Acquin tidak bisa melakukan pembayaran yang harus dilakukannya setiap tahun selama 15 tahun.


Monsieur Acquin ditangkap dan dipenjara sementara anak2nya harus hidup terpisah dengan paman ataupun bibi mereka. Tidak ada yang mau mengambil Remi yang bukan kerabat asli mereka. Remi mempunyai ide untuk mengunjungi saudara2nya secara bergantian agar bisa menyampaikan kabar satu sama lain. 


Dalam perjalanan, Remi kembali bertemu dengan Mattia yang kondisinya telah jauh berbeda dengan saat dia masih bersama Garofali.


Remi masih ingat, ketika pertama bertemu Mattia di tempat Garofali, sorot mata Mattia yang semula lembut dan sedih berubah menjadi keras ketika membayangkan temannya akan mendapat hukuman. Kelak Remi baru tahu bahwa kalau hidup dengan orang2 jahat, lambat laun kita juga akan menjadi seperti mereka. (hal 184)


Tapi kini setelah lepas dari Garofali, Mattia menjadi sosok yang lebih ceria, seakan beban berat telah terangkat dari pundaknya. Dan Remi baru tahu bahwa Mattia ternyata jago memainkan beragam alat musik! Penuh semangat mereka bertiga dengan Capi kembali mengamen sepanjang perjalanan, kali ini dengan misi membeli sapi sebagai kejutan untuk Bu Barberin.


Mereka bahkan sampai minta tolong bantuin dokter hewan untuk memilihkan sapi yang sehat untuk mereka, karena seringkali Remi mendengar cerita para pembeli sapi merasa tertipu dengan kondisi sapi yang mereka beli. Sedikit demi sedikit akhirnya uang yang diperlukan mulai terkumpul. 


Penuh kegembiraan Remi mengunjungi rumah Bu Barberin yang terkejut dengan kedatangan Remi yang tidak pernah disangkanya! Kasih sayang Bu Barberin masih tidak berubah sedikit pun walau mereka telah lama berpisah. 


Dari Bu Barberin, Remi mengetahui bahwa orangtuanya mencarinya! Orangtua kandungnya! Waahh.. pantas saja Pak Barberin tidak ada di rumah, rupanya ia sudah kembali ke Paris untuk mencari Remi dan Signor Vitalis karena ketika dulu mereka berpisah, Signor Vitalis telah menetapkan tempat pertemuan mereka seandainya orangtua Remi ingin bertemu dengannya.


Rencana mengunjungi satu per satu saudara/i-nya terpaksa mengalami perubahan, Remi berniat mencari jejak keberadaan Pak Barberin karena Bu Barberin hanya mengetahui sedikit sekali info. Namun ternyata Pak Barberin sudah meninggal. Remi memang berhasil dipertemukan dengan orangtua kandungnya tapi kok beda bangets dengan bayangannya selama ini?


Selasa 3/4 (4:23 pm)


Rabu 4/4 (12:20 pm)


Menurut Bu Barberin, ketika ditemukan, Remi mengenakan pakaian yang indah sekali, pakaian yang hanya dikenakan oleh anak orang kaya. Tetapi orangtua yang 'ditemukan' Pak Barberin itu tinggal di daerah kumuh, dan tidak hanya itu, secara tidak sengaja Remi melihat dan mendengar selentingan bahwa orangtua 'kandung'nya itu pencuri dan sedang diuber2 polisi, hanya saja karena belum tertangkap basah dan kurangnya bukti, mereka belum bisa menangkapnya.


Mattia yang setia menemani Remi, mengingatkan bahwa mungkin saja orangtua ini bukanlah orangtua kandungnya, karena Remi tampak berbeda dengan keduanya dan tidak mirip dengan saudara/i kandungnya. Tidak tertutup kemungkinan, mereka justru orangtua yang menculik Remi ketika masih bayi dulu!


Belakangan baru diketahui, dugaan Mattia ternyata benar, dan 'otak' di balik penculikannya itu tak lain adalah pamannya sendiri yang merupakan saudara kandung ayah Remi! Kenapa sang paman melakukannya? Tentu saja karena harta! Ayah Remi meninggal ketika Remi masih kecil, pamannya berpikir dengan menyingkirkan Remi maka harta saudaranya itu akan jatuh ke tangannya.


Tetapii.. Arthur malah lahir tidak lama kemudian. Sang paman masih bisa bernapas lega karena sejak kecil Arthur sakit2an dan menurut dokter hidupnya tidak akan panjang. Sang paman bersabar walau ia seringkali kesal dengan kakak iparnya, yang berulang kali dengan kasih sayangnya berhasil membuat Arthur sembuh dari sakitnya.


Sayang beribu sayang, ajakan Mattia agar Remi meninggalkan orangtua "kandung"nya itu tidak ditanggapi hingga Remi harus mendekam di penjara karena dituduh menjadi kaki tangan dalam kasus pencurian (or pembobolan bank ya? lupaa ;p)


Bagaimana nasib Remi selanjutnya? Bisakah ia memperingatkan Mrs Milligan agar berhati2 terhadap iparnya yang sedari dulu punya segudang rencana jahat untuk menguasai harta kakaknya itu? Lalu berhasilkan Remi bertemu dengan Mrs Milligan dan Arthur serta hidup berbahagia bersama keluarga yang selama ini selalu diimpi2kannya?


Well, berhubung gua udah kebanyakan menggumbar isi cerita dari buku yang satu ini, maka untuk endingnya, gua persilahkan kalian membacanya sendiri aja yaa, hahahaha..


One thing for sure.. ini buku otree bangets, gua berharap Gramedia akan menerbitkan buku2 Hector Malot lainnya ;)


Mari membaca.. dan mari menenggelamkan diri serta melebur dalam cerita yang kita baca ^o^


Rabu 4/4 (12:30 pm)


-Indah-

Tuesday, April 3, 2012

Sunday Messages : Indah BersamaMu

Gambar diambil dari :
http://powerstates.com/god-thoughts-can-influence-generosity


Selasa 3/4 (5:58 am)


Minggu lalu ada satu lagi yang pas dinyanyikan itu menimbulkan rasa haru.


Yang dinyanyiin itu lebih sering reff-nya aja and kaga ada judulnya pula, hahaha.. untung aja ada Google, terima kasih buat yang suka sharing di internet sehingga gua bisa menemukan lirik lagu ini versi utuh serta mengetahui judulnya :)


~.*.~

"Indah BersamaMu"

Hanya dekat Allahku
Rasa tenang hatiku
Kau sertai jalanku
Sepanjang hidupku

Hanya dekat padaMu
Ada kekuatan baru
Kaulah perlindunganku
Keselamatanku

Kuingin selalu bersekutu denganMu
Menikmati hadiratMu
Biarkan RohMu tinggal dalam hidupku
Sungguh indah bersamaMu selamanya

~.*.~


Menilik lirik lagu ini bait demi bait, gua jadi teringat akan perkataan seseorang (yang gua udah ngga inget siapa, huahahaha, maap yaa, buat yang ngomong perkataan berikut, kalau mau klaim kata2nya sebagai kata2 kamu seorang, boleh kok, kasih tau aja yaa :D), yang bilang bahwa..


"Me + God = enough"


Formula yang sebenernya simple bangets khan, tapi sepertinya hanya segelintir orang aja yang mampu mengamininya secara sungguh2.


Me + God = enough, yang artinya Dia adalah prioritas utama yang harus selalu ada dalam hidup kita. Hanya dengan memilikiNya sebenernya kita telah memiliki segala hal yang kita butuhkan.


Me + God = enough, artinya hal2 lain tidak lagi menjadi sesuatu yang penting untuk dikejar karena yang terutama telah kita miliki, ada rasa 'cukup' hanya dengan bersamaNya.


Cukup. Merasa berkecukupan dengan apa yang kita miliki saat ini merupakan sebuah berkat yang ngga semua orang miliki.


Coba saja tanyakan pada para motivator, pastilah merasa "cukup" itu merupakan musuh besar untuk kemajuan, hahahaha.. seakan2 'dosa' besar untuk merasa keadaan sekarang itu ngga perlu dikembangkan lebih lanjut.


Kadang ya gua mikir.. kita itu semakin maju tapi semakin mundur.


Jadi bingung sendiri dhe, apa maksudnyaa? :p


Pokoknya.. yaa, begitulah, hahaha.. ngga jelas bangets sihh! *toeng*


Anywayy.. seringkali kesibukan 'dunia' itu justru menjauhkan kita dari keintiman dengan Tuhan, seakan2 hal yang lainnya itu jauh lebih penting daripada mempertahankan komunikasi denganNya.


Padahal yaa.. pada saat2 sedih, down, putus asa and desperate bangets, baru nyadar kalau benar hanya Dia yang paling mengerti dan tidak pernah meninggalkan kita ;)


Tapi begitu happy2 dikits.. lupa dhe, huhuhu..


Lagu ini jadi semacam self-reminder untuk kembali pada formula di atas bahwa "me + God = enough", ntah kapan bisa bener2 sampai pada tahap itu.. tapi sedikit demi sedikit harus semakin dekat :D


Sampai jumpa di "Sunday Messages" berikutnya *ntah kapan* hehehe..


Selasa 3/4 (6:19 am)


-Indah-

Monday, April 2, 2012

Handsome Parades : Mark Harmon

Pictures are taken from various sources via 
Google with keyword : Mark Harmon




Senin 2/4 (7:18 pm)


Awalnya itu mau nayangin si Michael "Tony DiNozzo" Weatherly aja di "Handsome Parades" hari ini, tapi kok jadi tergoda untuk menampilkan bos-nya juga, hahahaha..


Perkenalkan, Special Agent Gibbs yang punya nama asli Thomas Mark Harmon dan menurut Wikipedia lahir pada tanggal 2 September 1951 yang artinyaa.. tahun ini dia akan merayakan ulang tahun ke-61, wow!


And I mean.. WOW! Karena walau udah mencapai usia kepala 6, dia itu masih tetap terlihat charming lhoo.. in a way kinda mengingatkan gua akan Sean Connery yang makin tua makin keluar charming-nya boo ^o^


Gua baru tahu, atau setidaknya 'ngeh' soal Mark Harmon ini sejak nonton serial NCIS di Fox, walau dari pertama liat sih berasa tampangnya itu familiar tapi gua ngga bisa inget di mana pernah ngeliat dia sebelonnya, hahaha..


Pastinyaa.. gua senang bangets pas nyari2 di Google, hasilnya sama sekali jauuuhh dari mengecewakan karena dengan mudahnya gua nemuin banyaaaak bangets fotonya dalam beragam pose, and itu sepadan dengan banyaknya lilin satuan yang hadir di kue ultahnya, hahaha..


Maksud guaa.. dengan usia sebanyak itu, wajar kalo dia udah mengalami banyak peristiwa dalam hidupnya yang mau ngga mau pasti 'membentuk' wajahnya juga, hehehe:D


Yukk marii, sekarang kita nikmati wajah charming Mark Harmon ;)


alamaakk.. he's soo very handsome, ehh?!

rada2 culun tapi tetap cakepss

biar umur udah makin bertambah tapi masih tetap charming khaan? ;)

brewok gini juga masih tetap otree :))

lagi mandangin siapa tuhh? :p

yang cakeps itu apanya yaa? kayanya matanya dhe

ini juga rada2 culun, hehehe

yupp.. kayanya bener dhe, matanya itu baguss

selain matanya, senyumannya jugaa

everything about him dhe, ahahaha :p

mudanya ganteng, tuanya charming plus ganteng, what more can you ask?

nyamping gini juga otree

aahh.. aahh.. soo cakepss!


Berbeda dengan pas nyari gambarnya Michael Weatherly, pas nyari gambar Mark Harmon itu gua malah kesulitan untuk milih dikits aja, hahahaha.. karena rasanya pengen mencomot semua gambarnya and menaruhnya di blog gua, wakakakakak :p


Jadi ngga sabar pengen nonton NCIS lagee.. gua juga ngga ngerti sih kenapa di antara seri2 detektif pembunuhan macam gini, gua kok lebih nyangkutnya di NCIS dibanding CSI or Law & Order, semuanya gua tontonin sih tapi kalo disuruh milih satu yang menempati posisi teratas, ngga susah untuk memilih NCIS untuk berada di puncak.


Hmm.. bersaing ama Castle dinks, hahaha.. soalnya di Castle selain pemainnya cakeps, ada percikan2 asmara, hihihi..


Okee dokee.. see you in the next "Handsome Parades" ;)


Senin 2/4 (8:02 pm)


-Indah-

Handsome Parades : Michael Weatherly

Pictures are taken from various sources via Google with keywords : Michael Weatherly



 Senin 2/4 (6:50 pm)

Udah lamaa bangets yaa gua ngga bikin "Handsome Parades" di sini padahal khan ada banyaaak bangets pria2 rupawan di luar sana, hahahaha.. sayang aja kalo ngga dikumpulin jadi satu di blog ini :p

"Handsome Parades" kali ini menampilkan agen NCIS, Anthony di Nozzo, atau yang punya nama asli Michael Weatherly.

Sosok tampan yang rada2 konyol ini pas dicari2 foto2nya via Google ternyata wajah dia ngga terlalu bunglon, hahaha.. he's still charmingly handsome tapi yaa in almost every picture tampangnya ya githu2 aja, huehehehehe..

Tapi, tetepp.. mari kita nikmati wajah gantengnya itu, ngga dosa khan? :))

with his co-partner in ncis

charming as always

rada rapian dikitss

mau dinyanyiin lagu apa, hayoo?


And oohh, myy.. you know what, I've just found out that he was born in 1968 yang artinyaa tahun ini dia umur 44 tahun boo! Huaa.. kok masih tetap charming yaa? Hihihi.. walau tetep sih, masih kalah ama bosnya, si Special Agent Gibbs, hihihi.. ntar gua mau cari bio-nya :p

Btw, eheem.. Tonyy, maap yaa.. sambil nyari2 gambar dirimu, gua juga nyari2 gambarnya Mark Harmon, lha koookk.. stok gambar Gibbs lebih banyak yang menarik dibanding dirimu? *upss* Hahahaha..

Meanwhile.. enjoy Michael Weatherly's photos ;)

Senin 2/4 (7:08 pm)

-Indah-

Simple Little Thing Called Clapping

Gambar diambil dari :
http://www.whattoexpect.com/toddler/photo-gallery/your-favorite-toddler-milestones.aspx


Senin 2/4 (7:12 am)


Hari Minggu lalu (1/4), berhubung Ii and Oom gua lagi pada sakit jadi gua nemenin nyokap gua beribadah di gerejanya karena biasanya khan tempat beribadah gua ma nyokap tuh beda, gua ngerasa lebih sreg ma gereja dekat rumah, haha..


Anywayy..


Gereja gua ini khan termasuk aliran Pantekosta yang artinya kalo pas nyanyi2 itu "rame" diiringi musik and tepuk tangan para jemaat.


Tau khan tepuk tangan itu gimana? Itu lho, mempertemukan telapak tangan kanan dengan telapak tangan kiri hingga 'berbunyi' :p


Suatu gerakan yang sebenernya simpel bangets khan, tapi percayalaahh.. kalo elo memperhatikan sekitar, banyak bangets yang ogah2an melakukannya, hahahaha :))


And berhubung mata gua itu suka bangets mengedarkan pandangan, sambil nyanyi and tepuk tangan pun mata gua tetap melancarkan aksinya and tertumbuk pada seorang anak yang mungkin usianya masih sekitar 1 tahun githu dhe.


Nih anak yaa.. hobi bangets manyun, padahal wajahnya itu lumayan manis cuman saking seringnya manyun jadi manisnya itu kurang keliatan, hahahaha.. tapii.. ketika mendengar suara tepuk tangan, dia tertawa2 dan dengan bersemangat ikut bertepuk tangan.


Gua sih ngga yakin dia mengerti lagu apa yang sedang dinyanyikan tapi mungkin there's something dari suara tepuk tangan itu yang membuatnya senang dan ikut mempraktekkannya serta mengusir manyun dari wajahnya hingga kecantikannya terpancar ^o^


And melihatnya bertepuk tangan membuat gua tertegun. Why?


Ya ya yaa.. sama seperti si Opa yang dulu pernah gua liat beberapa bulan lalu, si anak perempuan ini juga sama ngga bertempo-nya pas tepuk tangan. Bukannya mengikuti plok plok plok yang biasa dengan memberi jeda antara plok yang satu dengan plok berikutnya, dengan bersemangatnya dia ber-plok plok plok tanpa henti dan tanpa jeda.


Secara rima, jelas tepukan nih anak kurang bersahabat dengan telinga tapi melihat ekspresi wajahnya dan betapa semangatnya dia dalam bertepuk tangan bikin gua jadi mikir..


"Kapan ya terakhir kali feel that excited dalam menyanyikan puji2an dan bertepuk tangan?"


Karena at times, nyanyi dan tepuk tangan itu udah jadi semacam 'kebiasaan' yang dilakukan dengan perasaan datar2 aja.. padahal ini khan sedang ada dalam rumah Tuhan, menyanyikan puji2an harusnya ada suatu 'rasa' di dalam hati yang bisa menghangatkan, menetramkan, menghibur, dan berbagai rasa lainnya :))


Tepuk tangan anak itu menjadi semacam self-reminder akan sesuatu yang penting dan harusnya tetap menjadi sesuatu yang luar biasa, betapapun seringnya hal itu dilakukan, iya khan?


Thank yoo, girl, for that simple thing that you did yang memberikan suatu 'pesan' di Minggu pagi, much more stronger daripada khotbah pada hari itu, hahaha :))


Senin 2/4 (7:32 am)


-Indah-

Yummyy : Opor Ayam

Gambar diambil dari : koleksi pribadi


Senin 2/4 (6:42 am)


Selamat memasuki hari kedua di bulan keempat di tahun dua ribu dua belas ini, huehehehe.. Bagaimana 3 bulan pertama yang telah berhasil dilalui di tahun ini? Semoga apapun yang terjadi di belakang, bisa memberikan pembelajaran untuk dijadikan bekal dalam mengarungi 9 bulan lanjutan masih di tahun yang sama :))


Anywayy.. pagi2 gini mari kita melaparkan diri dengan menikmati suguhan gambar yang kali ini menampilkan opor ayam, ahahaha..


Menu ini salah satu favorit gua hasil masakan nyokap :q


Kalo mengutip ucapan keponakan gua, "Oma itu masakannya ngga ada yang ngga enak ya, I, semuanya enak2!"


Yoii.. bener bangets apa kata keponakan gua itu, entah karena practice makes perfect atau memang tangan nyokap gua itu ada bakat masak terpendam, hahaha.. tapi pastinya masakan nyokap itu uenaak2 ;)


Menurut nyokap, "opor ayam" ini simple bangets masaknya, apalagi bumbunya pake bumbu opor instan yang mudah didapatkan di berbagai supermarket, cuman memang masih ditambahin beberapa jenis bumbu lainnya yang gua kaga tau, hahaha.. karena gua ngga pernah hadir pada saat nyokap memasak, gua khan tinggal bagian makan ajaa :p


Kenapa gua suka ama opor ayam ini? Karena rasanya pas, gurih tapi ngga terlalu berlebihan, udah githu ayamnya itu empuk bangets, dipotong pakai sendok aja mudah lepas dari tulangnya, apalagi kalau kuahnya itu udah meresap masuk ke dalam daging ayamnya, huaa.. dijamin rasanya makin sedaapp..


Seringan bikinnya opor ayam aja tanpa tambahan lainnya, cuman terakhir masak di tanggal 27 Maret lalu, nyokap nambahin tahu putih ke dalam opor tersebut and berhubung gua emang doyan tahu jadi yaa rasanya enak2 ajaa :))


Masih banyak masakan enak buatan nyokap lainnya tapi lebih seringnya gua main masukin aja ke dalam mulut, kelupaan buat motret tuh makanan dulu sebelon licin tandas, hahahaha..


Sekarang saatnya nyari makanan dulu, berhubung laper ngeliatin tuh gambar aja :p


Mari makaann.. semoga apa yang dimasukkan ke dalam mulut bisa memberikan energi positif dalam diri kita and hidup orang lain yang bersinggungan dengan kita di hari ini (dan seterusnya), amiinn :))


Senin 2/4 (6:49 am)


-Indah-

Books : How To Be A Writer - Primadonna Angela

Gambar diambil dari : koleksi buku pribadi
"How To Be A Writer" by Primadonna Angela
Gramedia Pustaka Utama
Februari 2012
Cover : maryna_design@yahoo.com
Layout isi & ilustrasi : eMTe
232 halaman, 20 cm
ISBN : 978-979-22-7983-2


Kamis 29/3 (4:59 am)


Zoya asli lagi sebel bangets ma yang namanya Bu Selma, guru pengganti Bu Molly yang sedang cuti melahirkan itu asli bikin Zoya uring2an!


Bagaimana tidak, Zoya yang selama ini selalu disanjung puji Bu Molly, Guru Bahasa Indonesia-nya mengenai kemampuannya merangkai kata, kini harus menghadapi kenyataan pahit ketika Bu Selma mengembalikan karangannya sambil memberi catatan : "Tema dan ide sudah menarik tapi karakter terlalu dangkal dan tidak realistis"!


Huh, tau apa sih Bu Selma tentang dunia menulis? Beraninya dia memberi komentar seperti itu?!


Zoya marah, impiannya hancur berantakan, harga dirinya terusik dan rasa percaya dirinya terguncang. Komentar dari Bu Selma itu mau tidak mau membuatnya mempertanyakan tulisannya selama ini, apa benar apa yang dikatakan Bu Selma? 


Padahal Zoya udah ngarep bangets bisa jadi penulis beken seperti Andita Letta, idolanya. Menurut Zoya, Andita Letta itu penulis yang menghibur sekaligus ada pesan moralnya. Pokoknya di mata Zoya, Andita Letta itu keren bangets dhe, pasti orangnya itu humoris, keren, anggun, gaya dan cerdas. Plus, pasti dia sosialita juga soalnya sering bangets ngebahas kehidupan kaum jetset di ceritanya.


Huaa.. Zoya juga mau donks aww kaya dia! Bisa ngga ya? Terus ketika Zoya ikut acara jumpa temu fans dengan penulis idolanya itu, apa iya Andita Letta itu seperti apa yang selama ini selalu dibayangkannya? Padahal Bu Selma bilang, "You are not what you write", apa maksud itu, Buu?


Untuk mengetahui jawabannya, silahkan baca sendiri novel "How To Be A Writer" karya Primadonna Angela ini, psstt.. ini merupakan buku kedua puluhnya dia lhoo, wow!


Yupp.. novel "How To Be A Writer" ini mantaps dhe, tidak hanya cara penyampaiannya tapi juga isinya boo.. Terbagi atas 2 bagian, dua2nya sama2 tentang "How To Be A Writer", satu disajikan dalam bentuk fiksi tentang si Zoya seperti yang gua ceritain di atas, satunya lagi non fiksi yang akan gua bahas sebentar lagi.


Cerita Zoya sendiri walau merupakan fiksi, tapi dari sub judulnya aja sebenernya ngasih tau kita juga tentang tahapan2 dalam membuat suatu karya tulis.


Ngga percaya? Nih, simak dhe sub judul "How To Be A Writer" versi fiksi.


- harus mulai dari mana?
- kesempatan untuk memulai sesuatu yang berbeda?
- mulai dari yang kauketahui
- menikmati menulis
- kesan pertama itu menentukan
- terkadang semua ngga berjalan sesuai kerangka
- ngadat deh!
- trial & error
- menulis itu harus jelas  untuk siapa
- if you really want something, then it is your sacred duty to pursue it, and try your best at succeeding
- you are not what you write


Nah khan.. semuanya itu merupakan tahapan2 yang harus dimengerti dalam menulis juga, iya khan? Tapi disajikannya dalam bentuk fiksi dengan tokoh utama bernama Zoya, keren khan? :D


Sementara untuk bagian non fiksinya, sang pengarang sendiri, dalam hal ini Primadonna Angela, membebaskan kita membacanya boleh urut ataupun cari aja bagian yang memang kita butuhkan dan mulai dari sana.


Berikut yang bisa dikulik dari sesi non fiksi :


- awali dengan niat
- cari tahu motivasimu
- menulis sebagai hobi atau profesi
- apa yang ingin kamu sampaikan
- menggagas ide
- ciptakan zona nyamanmu
- mulai dengan ide yang solid
- ayo menulis!
- latar
- karakter
- konflik
- show, don't tell
- akhiri dengan manis
- mengatasi writer's blockitis
- menerbitkan naskah


Di samping itu juga ada tips menulis, kesimpulan, bagian penutup dan profil pengarang.


Buku setebal 232 halaman ini dijamin bakal bikin kenyang karena font-nya itu lebih kecil dari biasanya plus materinya sendiri itu padat.


Diharapkan kalo kamu mempraktekkan petunjuk2 yang ada di buku ini, menghasilkan karya tulis berupa novel bukan lagi sekedar impian belaka namun bisa menjadi kenyataan, cihuyy ^o^


Soo.. what are you waiting for? Grab this book and start reading dan setelahnya tentu saja harus mulai menulis donks aww, hahahaha.. karena apa yang mau diterbitin kalo tulisannya aja ngga ada?! :p


Satu pesan dari Donna, "There is NO corret way to write. If you write using a certain way and it works, then perhaps it's the BEST way for you!"


Nah, setiap pengarang itu mempunyai keunikan mereka sendiri, jadi tugas setiap dari kita untuk mencari tahu apa sih keunikan menulis yang kita miliki? Karena kalau soal ide, tema, alur dllsb, huaahh.. dijamin dhe ngga ada satupun yang bener2 baru!


Seperti kata Raja Salomo, "there's nothing new under the sun", percaya aja dhe, dia itu orang paling bijaksana lhoo, hihihi :))


Happy reading, happy writing and happy seeing your books being published ^o^


Kamis 29/3 (5:26 am)


-Indah-